Banyak pemain sering terjebak dalam dilema antara kualitas visual yang memukau atau performa yang mulus. Seringkali, kita hanya mengandalkan fitur “Auto-Detect” yang disediakan oleh pengembang game, padahal fitur tersebut jarang memberikan hasil yang benar-benar optimal untuk setiap PC. Sebagai pemain yang cerdas, Anda perlu memahami cara melakukan benchmark mandiri agar mendapatkan pengalaman bermain yang paling responsif namun tetap memanjakan mata.
Mengapa Benchmark Mandiri Sangat Penting?
Setiap komponen hardware memiliki karakteristik yang unik. Meskipun dua orang menggunakan kartu grafis yang sama, perbedaan pada prosesor, kecepatan RAM, hingga suhu ruangan dapat menghasilkan performa yang berbeda. Oleh karena itu, melakukan pengujian secara mandiri menjadi langkah krusial. Selain itu, update driver terbaru seringkali mengubah cara sistem menangani beban kerja game tertentu. Dengan melakukan benchmark, Anda dapat memastikan bahwa sistem selalu berjalan pada titik efisiensi tertingginya.
Persiapan Sebelum Memulai Pengujian
Sebelum Anda masuk ke dalam menu setting game, Anda harus mempersiapkan lingkungan pengujian yang stabil. Pastikan tidak ada aplikasi berat yang berjalan di latar belakang seperti browser dengan banyak tab atau aplikasi pengeditan video. Selain itu, pastikan driver GPU Anda sudah berada pada versi paling mutakhir.
Memilih Software Monitoring yang Tepat
Anda membutuhkan alat untuk melihat angka-angka performa secara real-time. Beberapa software yang sangat direkomendasikan antara lain:
-
MSI Afterburner: Tool paling populer untuk memantau FPS, suhu, dan penggunaan hardware secara mendalam.
-
HWMonitor: Sangat berguna untuk memantau suhu komponen secara mendetail agar tidak terjadi thermal throttling.
-
CapFrameX: Ideal jika Anda ingin menganalisis stabilitas frame time secara profesional.
Langkah Strategis Melakukan Benchmark Mandiri
Setelah software siap, saatnya Anda beraksi di dalam game. Namun, jangan langsung mengubah semua pengaturan sekaligus karena hal ini akan membingungkan Anda saat mencari penyebab penurunan performa.
1. Gunakan Tool Benchmark Bawaan Game
Banyak game AAA modern menyediakan fitur “Run Benchmark” di menu pengaturan. Gunakan fitur ini sebagai titik awal. Keunggulan dari benchmark bawaan adalah skenarionya selalu sama, sehingga variabel pengujian tetap konsisten. Namun, jika game tersebut tidak memilikinya, Anda harus memilih area di dalam game yang memiliki beban visual berat, seperti kota yang ramai atau hutan dengan banyak partikel cahaya.
2. Menentukan Target FPS dan Refresh Rate
Langkah pertama dalam optimasi adalah mengetahui batas monitor Anda. Jika monitor Anda memiliki refresh rate 60Hz, mengejar 200 FPS sebenarnya kurang efektif. Namun, bagi pemain kompetitif, memiliki FPS yang lebih tinggi dari refresh rate dapat mengurangi input lag. Sebaliknya, jika Anda lebih menyukai game petualangan dengan grafis indah, menjaga stabilitas di angka 60 FPS sudah sangat mencukupi.
3. Mengatur Prioritas Setting Grafis
Tidak semua pengaturan grafis memberikan dampak visual yang sama besar. Namun, beberapa pengaturan sangat memakan sumber daya hardware. Anda harus fokus pada “The Big Four” dalam grafis game:
-
Resolution: Mengubah resolusi adalah cara paling instan untuk menaikkan FPS, namun berdampak besar pada ketajaman gambar.
-
Shadow Quality: Bayangan yang terlalu halus membutuhkan tenaga GPU yang masif. Menurunkannya ke tingkat “Medium” biasanya memberikan peningkatan performa yang signifikan.
-
Ambient Occlusion: Fitur ini memberikan kedalaman pada bayangan di pojok ruangan. Meskipun cantik, fitur ini cukup berat.
-
Texture Quality: Jika VRAM kartu grafis Anda mencukupi, Anda bisa mengatur ini ke level tinggi tanpa kehilangan banyak FPS.
Dalam proses mencari keseimbangan ini, terkadang pemain butuh istirahat sejenak untuk menyegarkan pikiran. Sama seperti saat Anda mencari hiburan alternatif di platform digital populer seperti flores 99 yang menawarkan pengalaman berbeda bagi komunitas online. Setelah pikiran segar kembali, Anda bisa melanjutkan eksperimen settingan grafis dengan lebih fokus dan teliti.
Analisis Data: FPS Bukan Segalanya
Banyak orang hanya melihat angka rata-rata FPS (Average FPS). Padahal, angka tersebut bisa menipu. Anda juga harus memperhatikan 1% Low FPS.
Memahami Frame Time dan Stuttering
Jika rata-rata FPS Anda 100, tetapi 1% Low Anda berada di angka 20, Anda akan merasakan patah-patah atau stuttering. Hal ini biasanya terjadi karena keterbatasan CPU atau kecepatan RAM yang lambat. Selain itu, frame time yang tidak konsisten akan membuat gerakan di layar terasa tidak mulus meskipun angka FPS terlihat tinggi. Gunakan grafik pada MSI Afterburner untuk memastikan garis frame time terlihat sedatar mungkin.
Optimasi Lanjutan dengan Fitur Upscaling
Jika setelah melakukan benchmark Anda masih belum mencapai target FPS yang diinginkan, jangan berkecil hati. Saat ini, teknologi upscaling telah menjadi penyelamat bagi para gamer.
-
NVIDIA DLSS: Menggunakan AI untuk merender gambar pada resolusi lebih rendah lalu menampilkannya kembali dalam resolusi tinggi.
-
AMD FSR: Solusi serupa yang bersifat universal untuk berbagai jenis kartu grafis.
-
Intel XeSS: Alternatif dari Intel yang juga memberikan peningkatan performa yang luar biasa.
Gunakan fitur-fitur ini pada mode “Quality” terlebih dahulu. Biasanya, fitur ini akan memberikan lonjakan FPS yang cukup signifikan tanpa merusak kualitas visual secara drastis.
Kesimpulan dan Langkah Akhir
Melakukan benchmark mandiri memang membutuhkan waktu dan kesabaran yang ekstra. Namun, hasil yang Anda dapatkan akan jauh lebih memuaskan daripada sekadar menggunakan settingan default. Dengan memahami interaksi antara hardware dan software, Anda tidak hanya mendapatkan game yang lancar, tetapi juga memperpanjang umur komponen PC Anda karena suhu yang lebih terjaga.
Pastikan Anda selalu melakukan pengujian ulang setiap kali ada update besar pada game atau sistem operasi. Performa PC adalah sesuatu yang dinamis, sehingga pemantauan berkala sangatlah disarankan agar pengalaman gaming Anda tetap maksimal di setiap sesi.